You are here: HomeBeritaArtikel Umum

Artikel Umum (6)

Beberapa Fakta terkait Air

Written by Wednesday, 26 March 2014 09:01

Dalam rangka World Water Day, peringatan 22 Maret, inilah beberapa fakta terkait si sumber kehidupan kita: air.

  • Air ada di Bumi karena atmosfer yang dapat menjaganya tetap cair, tidak hancur oleh radiasi matahari.
  • 97,5 persen air di Bumi air asin. Sedangkan 2,5 persennya adalah air tawar—yang terdiri atas lapisan es, gletser, salju (dua pertiga), dan sisanya barulah air permukaan dan air tanah.
  • Tiap 1 dari 8 orang kekurangan akses ke air bersih. Menurut laporan UN Water Organization, di 2011, 768 juta orang tidak memiliki sumber air bersih untuk air minum dan 2,5 miliar orang tidak memiliki sumber air bersih untuk sanitasi.
  • Dengan pertumbuhan masif populasi Bumi, permintaan terhadap air juga akan mengalami kenaikan serta berujung pada kelangkaan air di depan mata, kecuali cara konsumsi kita diubah.
  • Perubahan iklim juga memberi ancaman bagi persediaan air. Dari paparan World Bank, imbas biaya kenaikan suhu global rata-rata 2oC ini untuk pemenuhan kebutuhan air berkisar 13 hingga 19,2 miliar dollar AS.
  • World Water Day 2014 ini mengambil sasaran utama: meningkatkan kesadaran akan pertalian air dan energi. Hydroelectricity merupakan potensi terbesar sumber terbarukan untuk pembangkit listrik, dan porsinya sebagai "energi hijau" mendatang diperkirakan sekitar 16 persen pada 2035.
  • Ilmuwan mengatakan, ada kemungkinan para penjelajah antariksa di masa depan bisa minum dari es (air beku) Bulan yang dicairkan, dan mengubahnya menjadi oksigen atau bahan bakar perjalanan ke Mars.

 

Sumber : National Geographic Indonesia

Dongeng Geologi tentang Nusantara

Written by Monday, 10 March 2014 14:34

Rovicky Dwi Putrohari (51), geolog yang telah 25 tahun bekerja di perusahaan minyak dan gas. Profesionalitasnya diakui dengan dipilih sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) sejak 2011. Namun baginya, pencapaian terbesar adalah mencipta blog populer: “Dongeng Geologi”.
Oleh: Ahmad Arif

Nusantara diberkahi bentang alam elok, tanah subur, hutan hujan kaya satwa endemis, dan berlimpah mineral. Segenap kekayaan ini merupakan berkah dari kondisi geologi pulau-pulau penyusun negeri yang hiperaktif.

Namun, kondisi ini juga yang membuat negeri ini rentan dilanda bencana geologi, seperti gempa, tsunami, serta letusan gunung api. “Sekalipun bencana alam berulang terjadi di masa lalu, namun kesadaran bencana kita masih rendah. Kondisi ini disebabkan minimnya pengetahuan geologi, dan itu bisa fatal,” kata Rovicky.

Dia mencontohkan besarnya korban tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 karena banyak warga yang justru ke pantai melihat laut surut sesaat setelah gempa. Padahal, surutnya laut ini adalah salah satu tanda akan terjadinya tsunami.

“Jika orang Aceh diberi tahu sebelumnya soal tanda-tanda tsunami, korban mungkin tidak akan sebanyak itu,” kata dia. “Jika kita memahami geologi, maka kita akan mengerti kondisi sekitar. Karena itu ilmu ini harus dibagi.”

Ilmu untuk hidup

Keinginan untuk berbagi ilmu geologi inilah yang mendorong Rovicky menulis di internet sejak tahun 1998. Awalnya ada karyawan bagian administrasi di kantornya, perusahaan minyak di Jakarta, yang kerap bertanya soal perminyakan dan geologi dasar seperti, “Kenapa sungai berkelok-kelok?” atau “Kenapa terjadi banjir?”

Rovikcy kemudian memberikan penjelasan dengan menulis di internet. Saat itu belum ada blog berformat seperti sekarang. “Awal-awal html. Belum bisa buat penjelasan dengan gambar,” kata dia.

Rovicky terus menulis tentang geologi, sekalipun dia kemudian pindah ke sejumlah perusahaan migas lain, termasuk ke Malaysia dan Brunei. Hingga kini blog “Dongeng Geologi” dikunjungi 2.287.409 orang, dan sebagian isinya telah menyebar luas karena Rovicky membebaskan pengunjung menyalin tulisannya. Ada tiga hal yang biasa ditulis Rovicky, yaitu soal ekstraksi mineral, mitigasi bencana, dan pelestarian lingkungan.

Beberapa bulan sebelum bencana Aceh, sebenarnya Rovicky menulis tentang ancaman tsunami di barat Sumatera. Dia menyitir pernyataan geolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman, yang mempresentasikan hasil penelitiannya tentang Mentawai di depan para geolog di Jakarta.

“Saat menulis itu, saya belum begitu terbayang besarnya bahaya tsunami,” kata dia.

Sejak bencana Aceh, Rovicky tertarik membaca dan menulis soal tsunami dan bencana alam lainnya. Selain menulis di blog, Rovicky juga berbagi pengetahuan soal geologi dan kebencanaan dengan datang ke sekolah-sekolah dasar hingga menengah.

Apa pentingnya geologi bagi masyarakat?

Hingga saat ini masyarakat kebanyakan mengaitkan geologi dengan eksplorasi pertambangan. Padahal, geologi juga ilmu tentang bagaimana bertahan hidup.

Di sisi lain, kesenjangan remunerasi menyebabkan profesi di bidang mitigasi bencana kurang diminati. Sisi bisnis bidang kebencanaan masih dipandang sebelah mata. Bahkan para penyelamat masih dilihat sebagai profesi amatir atau sukarelawan.

Akhirnya kondisi ini berdampak pada sedikitnya orang yang mau menggeluti profesi kegunungapian dan kebencanaan lainnya. Padahal mereka juga harus dihargai secara profesional juga.

Kenapa membuat blog geologi populer?

Saya melihat masyarakat sebenarnya haus dengan informasi kegeologian, misalnya kenapa tsunami bisa terjadi atau apakah akan berulang lagi. Di sisi lain, media massa kebanyakan hanya menulis drama saat kejadian bencana atau berupa berita saja. Masyarakat butuh informasi dan penjelasan yang lebih lengkap, dengan bahasa yang mudah difahami.

Beberapa kali saya bertanya kepada pengunjung blog saya, kenapa tidak mencari tahu soal-soal geologi ini ke situs-situs resmi milik pemerintah seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Mereka kebanyakan menjawab tak pernah mendapat respons jika bertanya kepada ahli-ahlinya.

Berkembangnya dunia internet bisa menjadi kesempatan untuk menyampaikan informasi secara lebih mudah dan interaktif ke masyarakat. Tiap departemen di pemerintah bisa memanfaatkan ini sebenarnya, terutama bagian litbangnya.

Minimnya penjelasan secara ilmiah, termasuk dari disiplin ilmu geologi membuat masyarakat membangun logika sendiri. Logika yang paling mudah adalah dengan mengaitkannya dengan unsur “klenik”. Akibatnya, kita kerap tidak belajar dari setiap kejadian yang telah lewat.

Bukankah pendidikan ilmu alam diajarkan sejak dini di sekolah? 

Selama ini, pola pengajaran ilmu alam di sekolah-sekolah di Indonesia tidak membumi. Lebih banyak dilakukan dari buku, dengan teknik menghafal. Materi dan kurikulumnya seragam. Setiap anak diwajibkan mengerti semua hal yang barangkali kurang bermakna pada kebutuhan “survival”-nya.

Dengan model pendidikan seperti ini, anak-anak akhirnya kesulitan memahami kondisi alam sekitar. Cara terbaik untuk belajar ilmu alam itu harusnya langsung dari alam, sesuai konteks. Misalnya, orang Sumatera, butuh porsi lebih pelajaran soal gempa dan tsunami, dan bagaimana menghadapinya. Di Jawa butuh lebih banyak soal pelajaran gunung api.

Salah kelola

Ketidakfahaman soal geologi ini, menurut Rovicky, tak hanya dialami masyarakat kebanyakan, tetapi juga oleh pejabat pemerintah maupun legislatif. Akibatnya, banyak kebijakan keliru yang bisa memicu petaka.

Rovicky mencontohkan tentang salah kelola kekayaan tambang. Ratusan tahun Bumi nusantara digali mineralnya. Tetapi, Indonesia tak juga beranjak menjadi negeri makmur. Setidaknya, kemakmuran itu belum merata dinikmati rakyat. Sebaliknya kerusakan alam kian nyata.

Indonesia saat ini berada dalam ancaman krisis energi. Kebutuhan minyak bumi terus melonjak, seiring harganya di pasar dunia yang meninggi. Padahal produksi minyak menurun. Persoalannya bukan hanya cadangan mineral yang menipis, tetapi menurut Rovicky, juga dipicu kebijakan menjual mineral dalam bentuk mentah. “Kebijakan ini telah berlangsung sejak era kolonial,” kata dia.

Kenapa kebijakan kolonial ini dilestarikan?

Masalahnya ada di produk perundang-undangan tentang pengelolaan sumber daya alam kita juga masih mengadopsi pola kolonial. Padahal, hukum itu dibuat penguasa demi kepentingan mereka saat itu.

Secara umum aturan pengusahaan tambang, migas dan perkebunan mengacu pada pemberian hak khusus pada investor. Hak-hak ini mereduksi hak-hak rakyat pada pemanfaatan alam. Misalnya, hukum adat menyatakan bahwa menemukan buah jatuh adalah hak yang menemukan. Namun hak penemu ini hilang ketika tanah itu pengelolaannya diberikan pada investor.

Zaman kolonial, “investor” itu adalah VOC. Mereka mengambil sumber daya alam dengan tentara. Saat ini “investor” bisa dari luar maupun dari dalam, dalam bentuk lain tapi prinsipnya sama, cari untung sebanyak-banyaknya dengan mengekspor bahan mentah.

Aturan larangan ekspor bahan mentah baru saja dibuat Undang-Undang No 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Sebenarnya sangat terlambat, tetapi ini saja mengalami hambatan dari dalam selain tekanan dari luar, yang menunjukkan bahwa mentalitas terjajah masih ada di negeri ini.

Dalam kurun 2030 – 2050, Indonesia akan punya banyak tenaga kerja. Kalau sumber daya alam hilang akan berbahaya. Di negara lain, seperti India dan China, acadangan batu bara dalam negeri disimpan. Mereka pilih beli batu bara dari negara lain, termasuk dari Indonesia. Mereka simpan untuk masa mendatang.

Mulai 30 tahun terakhir, konsumsi sumber daya alam, termasuk energi, sangat besar. Padahal eksplorasinya berkurang. Penemuan lapangan baru pun tidak banyak. Padahal, dari eksplorasi hingga produksi rata-rata butuh waktu 30-an tahun. Misalnya, kita ketemu lahan minyak Duri dan Minas tahun 1945-an, namun baru berproduksi sekitar tahun 1970-an. Sebagai geolog saya sangat gelisah dengan situasi ini.

Apa yang Anda tawarkan untuk perubahan?

Kita cenderung berpikir jangka pendek. Misalnya, value multiplier effect dari gas jika dijual dalam negeri diperkirakan 25 dollar AS per mmbtu (million british thermal unit). Sedangkan harga gas ekspor melalui pipa 15,6 dollar AS  per mmbtu, untuk LNG 14,5 dollar AS per mmbtu. Harga gas domestik 5,8 dollar AS per mmbtu. Kalau SKKMigas (ESDM) dituntut meningkatkan pendapatannya (sesuai APBN), tentunya akan pilih ekspor. Demikian juga KKKS (kontraktor gas) lebih suka ekspor.

Dalam pembukuan ESDM tertulis lebih untung dengan mengekspor, tetapi secara keseluruhan negara berarti kehilangan potensial multiplier effect yang 25 dollar AS per mmbtu. Kalau kita terus berorientasi menjual gas ke luar negeri, secara jangka panjang akan jadi masalah serius, sebagaimana sudah terjadi di minyak bumi.

Pokoknya, jangan lagi menjual bahan mentah keluar! Jangan menghitung sekian ton batu bara yang bisa diekspor, tetapi berapa gigawatt batu bara yang kita bawa ke luar. Ton adalah satuan untuk batu bara dalam bentuk bahan mentah, tetapi gigawatt adalah satuan energi. Ini adalah soal paradigma berpikir. Contoh nyata adalah Kalimantan, yang mengekspor banyak batu bara dalam bentuk mentah, tetapi impor energi dari malaysia. Ini ironis.

Ada usulan konkrit?

Dalam perhitungan fiskal (bagi hasil) migas (energi) mestinya lebih utamakan alokasi ketimbang proporsi bagi hasil. Bisa saja dibuat aturan kontrak pengusahaan bagi hasil dengan mengutamakan alokasi dalam negeri ketimbang ekspor.

Saat ini kontrak bagi hasil minyak, negara mendapat 85 persen dan kontraktor 15 persen. Sedangkan gas, negara 70 persen dan sisanya kontraktor. Usulan saya diubah menjadi 50:50, dengan catatan gas dijual untuk dalam negeri.

Kita butuh visi jangka panjang dan pemahaman bersama untuk melihat sumber daya alam tidak hanya sebagai komoditas bahan mentah. Sekali lagi, ini juga soal pemahaman terhadap geologi, terhadap kondisi alam dan lingkungan di negeri tempat kita hidup dan mati ini...

 

Sumber: KOMPAS.com

Desalinasi: Proses Menghilangkan Kadar Garam Dalam Air

Written by Tuesday, 18 February 2014 11:35

Desalinasi adalah proses menghilangkan kadar garam dari air (umumnya air yang digunakan air laut) sehingga air tersebut dapat dikomsumsi oleh makhluk hidup. Produk proses desalinasi umumnya merupakan air dengan kandungan garam terlarut kurang dari 500 mg/l, yang dapat digunakan untuk keperluan domestik, industri, dan pertanian. Hasil sampingan dari proses desalinasi adalah brine. Brine adalah larutan garam berkonsentrasi tinggi (lebih dari 35000 mg/l garam terlarut).

Bagaimana Masa Depan Sumber Daya Air?

Written by Monday, 17 February 2014 15:26

Air memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, ini terlihat dari banyak munculnya peradaban manusia dari delta sungai seperti peradaban sungai Nil di Mesir dan peradaban sungai Tigris di Irak. Seiring berkembangnya zaman maka kebutuhan akan air akan terus meningkat. Namun bagaimana masa depan sumber daya air dikemudian hari?Ada beberapa skenario dalam bbukan karya Thomas V. Cech yang berjudul 'Principles of Water Resources History, Development, Management and Policy'.

Berbagai Teknik Penyaringan Air Sederhana

Written by Monday, 08 July 2013 10:40

Air merupakan sumber bagi kehidupan. Sering kita mendengar bumi disebut sebagai planet biru, karena air menutupi 3/4 permukaan bumi. Tetapi tidak jarang pula kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau disaat air umur mulai berubah warna atau berbau. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Yang pasti kita harus selalu optimis. Sekalipun air sumur atau sumber air lainnya yang kita miliki mulai menjadi keruh, kotor ataupun berbau, selama kuantitasnya masih banyak kita masih dapat berupaya merubah/menjernihkan air keruh/kotor tersebut menjadi air bersih yang layak pakai.

Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan
destilasi sederhana untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. Berikut beberapa alternatif cara sederhana untuk mendapatkan air bersih dengan cara penyaringan air :

1. Saringan Kain Katun.


Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

Manfaat Buah Mengkudu Untuk Kesehatan

Written by Monday, 01 July 2013 15:37

Buah mengkudu (Marinda citrifolia, Linn) adalah termasuk jenis tanaman dari keluarga Rubiaceae. Menurut beberapa sumber mengkudu merupakan salah satu jenis buah-buahan yang berasal dari Asia tenggara. tanaman mengkudu mampu tumbuh didataran rendah hingga ketinggian mencapai 1500 m dari permukaan laut, batang pohon mengkudu dapat mencapai 3-8 meter, memiliki bunga berbongol dan berwarna putih, buah mengkudu merupakan buah majemuk yang masih muda berwarna hijau mengkilap serta memiliki bintik-bintik atau totol-totol, dan saat sudah tua berwarna putih dan berbintik bintik hitam. - See more at: http://khasiatdaunalami.blogspot.com/2012/10/khasiat-buah-mengkudu.html#sthash.D3XgmK8r.dpuf


Buah mengudu bisa dibilang sebagai makanan dengan gizi yang lengkap. Buah ini memiliki hampir semua kandungan nutrisi pokok yang dibutuhkan oleh tubuh seperti vitamin, mineral, protein, serta karbohidrat. Beberapa jenis senyawa kimia penting juga terkandung dalam buah ini seperti terpenoid, selenium, xeronine, scolopetin, serta beberapa senyawa kimia lain.


 Berikut adalah beberapa manfaat buah mengkudu bagi kesehatan.

  1. Sebagai Sumber Antioksidan
    Buah mengkudu mengandung senyawa kimia selenium yang merupakan salah satu mineral penting sebagai sumber antioksidan alami bagi tubuh. Zat antioksidan sendiri berfungsi untuk menangkal berbagai radikal bebas yang dapat merusak tubuh sehingga daya tahan tubuh juga akan semakin kuat.
  2. Buah Antibakteri
    Kandungan senyawa-senyawa aktif seperti scolopetin dan antraquinon dalam mengkudu memiliki kemampuan sebagai zat antibakteri yang dapat mencegah infeksi kuman dalam tubuh. Senyawa scolopetin juga terbukti dapat mencegah peradangan serta reaksi alergi yang berlebihan pada tubuh.
  3. Mempercepat Regenerasi Sel Tubuh
    Senyawa terpenoid dan xeronine memiliki kemampuan untuk mengaktifkan protein-protein yang tidak aktif dan membantu proses sintesis protein untuk membantu mengganti sel-sel tubuh yang sudah mati (regenerasi).
  4. Mencegah dan Mengobati Kanker
    Buah mengkudu mengandung berbagai zat anti kanker yang berfungsi untuk membunuh dan menghentikan pertumbuhan sel-sel abnormal dalam tubuh.
  5. Penghilang Rasa Nyeri
    Kandungan zat-zat analgesik dalam buah mengkudu ternyata dapat berfungsi untuk mengatasi nyeri sendi. Selain itu, daun mengkudu juga sudah sejak lama dimanfaatkan sebagai kompres untuk meredakan sakit kepala.
  6. Menyehatkan Pencernaan
    Beberapa masalah kesehatan pada organ-organ pencernaan seperti sakit perut, perut kembung, dan radang lambung ternyata dapat diatasi dengan rutin mengkonsumsi buah mengkudu.
  7.  

E-rekomtek

http://bwssum1.info/rekomtek/

Kondisi Muka Air

Monitoring Kondisi Muka Air Waduk

Video Profil Ditjen SDA

qr sisda

Unduh Aplikasi Android SISDA BWSS1 http://goo.gl/570VpE

Member Online

We have 164 guests and no members online

PENGUNJUNG

Hari Ini43
Kemarin81
Minggu Ini205
Bulanan2186
Semua73897

DIKELOLA OLEH

Unit Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA)
Balai Wilayah Sungai Sumatera I.

Jl. Ir. H.M. Thaher No.14 Lueng Bata Banda Aceh 23247
- Telp: (0651) 637977

- Fax : (0651) 21118
- E-Mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

- E-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

-